Israel Masih Tahan Bocah Palestina yang Jadi Ikon Baru Perlawanan

Konflik Israel-Palestina, bagian dari konflik Arab-Israel yang lebih luas, adalah konflik yang berlanjut antara bangsa Israel dan bangsa Palestina.

Konflik Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-olah seluruh bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. Di kedua komunitas terdapat orang-orang dan kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekuler yang mencakup wilayah Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur

Langkah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu (6/12) mendapat protes dari berbagai kalangan.

Misalnya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebut keputusan itu sebagai “langkah mundur Amerika Serikat dari proses perdamaian”. Dia juga menilai bahwa Trump “memposisikan diri sebagai aktor konflik dan bukan mediator”. Dikutip dari CNN, ia bahkan menolak bertemu Wakil Presiden Mike Pence selama kunjungannya ke Timur Tengah.

Israel memperpanjang masa penahanan remaja Palestina berusia 16 tahun, Fawzi al-Junaidi, yang menjadi ikon baru perlawanan terhadap penjajahan Israel, setelah fotonya tengah digelandang militer zionis menyebar.

Fawzi menjadi simbol protes warga Palestina maupun negara lain terhadap keputusan Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pengadilan militer di Israel, seperti dilansir Anadolu Agency, Kamis (14/12/2017), memperpanjang masa tahanan Fawzi al-Juneidi hingga Senin (18/12) pekan depan.

Al-Juneidi berkali-kali dipukuli, ditendang, dan diseret oleh tentara Israel di kota Hebron, Tepi Barat pada Kamis (7/12) pekan lalu.

Kemudian Al-Juneidi dibawa ke Penjara Militer Ofer di Israel dengan mata ditutup kain.

Seusai persidangan, paman pemuda ini, Rashad al-Juneidi kepada Anadolu Agency mengatakan bahwa keponakannya dituduh “melempar batu kepada tentara”.

Rashad menjelaskan, bahwa pengadilan memutuskan untuk menunda persidangan dan tetap menahan keponakannya di penjara militer hingga Senin.

“Keponakan saya menolak tuduhan jaksa bahwa dia telah melempar batu ke tentara Israel. Dia bilang dia keluar untuk memenuhi beberapa kebutuhan keluarganya dan terjebak di tengah kejadian,” kata sang paman.

Rashad mengatakan, dalam persidangan keponakannya juga mengungkapkan bahwa sejumlah tentara menghadang dan menutup matanya saat dia mencoba melarikan diri dari bom suara dan lokasi kejadian.

Al-Juneidi akan kembali menghadap hakim militer pada Senin.

Remaja tersebut mulai dikenal secara luas setelah fotonya menjadi viral  di media sosial.

Penangkapan Al-Juneidi terjadi pada saat wilayah pendudukan Palestina bergolak karena aksi-aksi unjuk rasa menentang keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan mengumumkan rencana memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke kota yang diperebutkan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *